Saturday, May 12, 2012

Kisah Man Jadda Wajada ku


Sore ini iseng-iseng buka dokumen tulisan-tulisanku dulu, dan ternyata aku menemukan tulisan untuk lomba kisah inspiratif yag belum sempat di posting di blog. Daripada tulisan itu terkubur dalam-dalam diantara tulisan lain yang sama-sama kurang beruntung nasibnya di tangan panitia lomba, lebih baik saya posting disini. Hehe..

-----------------------------------------------------------------------------


Kuliah SI KEBIDANAN. Ya, itulah impianku sejak aku masuk di D3 Kebidanan kawan. Biar ku ceritakan sedikit kisahku ini. Dunia kebidanan sebenarnya bukan dunia yang aku ingini sejak kecil. Bagaimana tidak, lihat jarum suntik saja aku takut, apalagi lihat darah. dulu aku ingin menjadi ahli IT atau paling tidak menjadi dosen. 5 tahun yang lalu saat aku Lulus SMA, ada banyak tes masuk UMPTN yang aku ikuti mulai dari PMKA, UM UGM, SMPTN, SIPENMARU POLTEKKES sampai UM STAN pun aku ikuti. Tapi ternyata rezekiku ada di POLTEKKES, di D3 Kebidanan. Saat itu aku sedih, marah, kecewa pada Allah, aku sangat yakin doa seorang hamba akan didengar dan di kabulkan oleh Allah, tapi saat itu doa ku tak dikabulkan, aku malah di pilihkan di bidang yang tidak aku sukai. Sangat sulit rasanya menerima kenyataan bahwa aku adalah mahasiswa D3 Kebidanan, apalagi ditambah didikan asrama yang menurutku tidak rasional membuatku ingin keluar dari Kebidanan. Tapi setiap memikirkan itu, akupun meneteskan air mata. Aku ingat senyum bahagia orang tuaku ketika tahu aku diterima di kebidanan, setiap butir keringat yang menetes dari mereka yang kemudian dibayar lunas dengan SPPku yang tak pernah telat, dan harapan besar mereka bahwa nanti anaknya akan menjadi seorang bidan. Sungguh, aku sangat tak tega melukai hati mereka tapi aku juga tak mau menjalani hidup yang bukan pilihanku. Aku iri dengan teman-temanku yang kuliah S1 di universitas terkenal dan merantau, sementara aku, aku hanya kuliah D3 di Politeknik Kesehatan di daerahku. Aku ingat pesan guruku bahwa Allah tak akan merubah suatu kaum sampai kaum itu merubahnya sendiri. Ya, tak ada cara lain merubah keadaan ini kecuali dengan merubah mindsetku. Aku harus mencintai duniaku, dunia kebidanan. Ketika aku sudah mencintai kebidanan, aku bisa mendalami dunia kebidanan dengan kuliah S1 di luar kota, atau bahkan S2 kebidanan di luar negeri. Man Jadda Wajada.

Sejak saat itu, hari-hariku dipenuhi dengan semangat. Aku ingin cepat lulus dari D3 Kebidanan, kemudian mencari pengalaman setahun, lalu aku akan mendaftar S1 Kebidanan di UNAIR. Hari yang ditunggu pun tiba, hari pembacaan sumpah janji sebagai tenaga kesehatan dan hari itu aku resmi menyandang gelar bidan. Aku melihat senyum itu untuk kedua kalinya, senyum bahagia dari orangtuaku ketika aku wisada. Ibu, bapak, aku persembahkan gelar ini untuk kalian, dan sekarang biarkan aku menentukan jalanku sendiri. Setelah lulus dari D3, aku mencari pengalaman sebagai bidan di klinik bersalin didesaku. Disaat itu pula, untuk ke 2 kalinya aku harus mengubur impianku untuk kuliah S1. Aku terpaksa masuk di D4 Kebidanan didaerahku. Saat itu aku tak ada pilihan lain selain menjadi mahasiswa D4 Kebidanan. Hampir setiap malam aku menangis, aku seperti robot yang jalan hidupnya sudah diatur oleh orang lain. Sudah 1 semester lebih aku menjalani kuliah, tak ada perasaan puas dan bangga mengingat sebentar lagi aku menyandang gelar sarjana sains terapan. Impianku masih sama, ingin jadi sarjana kebidanan. Pagi itu, aku dapat sms dari kakak tingkatku di UNAIR. Dia mengatakan pendaftaran S1 Kebidanan sudah dibuka. Perasaanku campur aduk, senang karena punya kesempatan untuk mencoba tapi juga sedih kalau aku akan mengecewakan orang tuaku karena melepas kuliah D4. Aku minta izin ke mereka, awalnya ibu tak setuju mengingat biaya yang keluar untuk kuliah D4 tidak sedikit. Lama kelamaan ibu luluh juga, beliau ikhlas aku ikut tes masuk UNAIR. Beberapa hari kemudian, aku dapat kabar buruk, S1 Kebidanan UNAIR tidak membuka pendaftaran dari jalur D3. Aku seperti dipermainkan, ketika aku sudah mendapat restu orang tua, ternyata S1 Kebidanan ditutup. Aku mengadu pada Allah, aku yakin akan ada keajaiban nanti, dan impianku tak akan putus begitu saja.  Seminggu kemudian, aku iseng-iseng buka website UNAIR dan disitu tertulis pendaftaran untuk S1 Kebidanan dari jalur D3. Dengan ditemani bapak, aku pergi ke kota pahlawan untuk mengurus pendaftaran. Karena hidup adalah pilihan, aku telah melepas kuliah D4 dan memilih ikut tes mahasiswa baru di UNAIR. Resikonya dua, jika aku lulus maka aku akan dapat gelar sarjana, tapi jika tidak lulus aku tak dapat gelar apa-apa. Dengan modal belajar yang hanya beberapa hari, alhamdulillah namaku ada di daftar mahasiswa baru yang diterima. Untuk ketiga kalinya aku melihat senyum bahagia terukir di wajah kedua orang tuaku. Aku kini menjadi mahasiswa S1 Kebidanan kawan, satu impianku terwujud. Sungguh, jangan pernah remehkan impian kawan, karena impian akan memberimu kekuatan untuk mewujudkannya, sesulit apapun itu. Allah juga tidak pernah tidur, Allah menghitung setiap tetes keringat kita atas usaha kita untuk mewujudkan mimpi. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. Semoga cerita ini memberi manfaat.


i'm a dreamer!


2 comments:

Anonymous said...

liaby memang pernah kuliah D4 ya :?
kunjungii blog aq yah ^^

Unknown on March 22, 2015 at 10:17 PM said...

selamat siang mbak..
ini saya diana mbak... saya mau tanya kalau lagi hamil bisa atau tidak ikut mendaftar ujian s1 kebidanan di unair? trus mbak... saya boleh minta contoh soal ujian s1 kebidanan ahli jenis mbak. ini email saya dianasianipar.ds@gmail.com
terimakasih mbak.

Post a Comment

 

Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez